Kalo bahasa Jakarta nya Pondok Indah. Nah pondok indah ini, sorry Bale endah ini adalah area Rawan Banjir. Setiap musim penghujan datang senantiasa kebanjiran. Tje location indeed dilalui Sungai Citarum, but tentunya kita tidak bisa menyalahkan Sungai itu karena tidak setiap tempat yang dilalui sungai itu banjir. Who’s wrong then? We call is Force Majeur.
We are the Junior Red Cross of 8 Senior High School in Bandung always active in kegiatan Social ini. Giving a hand baik berupa Spiritual or Material, baik secara Individu (only senior high school of eight) ataupun gabung dengan PMI (Indonesian Red Cross). Dalam aksi bakti social ini We ever accompanying with Yon Zipur (Indonesian Soldier) Bale Endah dimana kami diantarnya menggunakan Perahu Karet.
Ada pengalaman menarik for me dan my friends – Jano. Waktu itu dari tenda ke tenda pengungsian kami memberikan pertolongan. Tugas pertolongan sudah diatur sebelumnya. Saya mendapat tugas memberikan pengobatan untuk yang terkena penyakit mata sedang kawan saya – Jano – memberikan pengobatan untuk yang terserang penyakit kulit. Esoknya sepulang darisana, saya terserang penyakit mata dan kawan saya – Jano – terserang penyakit kulit.
Darisini sudah jelas kalo sebetulnya kami tidak ditakdirkan jadi Dokter, buktinya our professions both of us now bukanlah seorang Dokter. how could it be ?, kami lulusan A3 atau Sociality sedang sekolah kedokteran dari lulusan A1 atau A2 atau IPA. Jadi kami hanya bisa berbakti social dan tidak bisa jadi Real a Docter. Sedang Dokter bisa dua-duanya, sebel…..nasib…..nasib……
Tampilkan postingan dengan label junior red cross. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label junior red cross. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Oktober 2011
RIDING B I K E
Saya punya pengalaman bersepeda yang menyakitkan bersama teman-teman oraganisasi PMR. Malam itu malam tahun baru, dimana kami anggota PMR bersepeda berkeliling kota menyambut datangnya tahun baru.
Diperjalanan didaerah Dago sekitar jalan Trunojoyo tiba-tiba muncul segerombolan pemuda yang berjalan kaki hamper memenuhi ruas jalan. Saat itu saya berada didepan dan adik-adik PMR yang perempuan dibelakang. Disanalah segerombolan Pemuda itu mencolek-colek adik-adik PMR saya. Dan saya hanya bisa melihat tanpa berkata-kata. Andai hanya beberapa orang tentu saya sudah menghajarnya. Ini segerombolan. Saya terpaku. Walau kejadiannya sebentar tapi itu benar-benar menyakitkan saya . saya kapok. Saya tidak akan setuju lagi andai acara ini diadakan lagi/ untuk adik-adik PMR. Saya minta maaf. Maaf yang sesungguhnya atas kejadian yang menimpa itu Please forgive me, I don’t know what to do…Please forgive me, I can’t stop that gerombolan….
Selain hal yang menyakitkan ini, saya punya pengalaman yang mengharukan yaitu saat bersepeda menuju Lembang menyisir bukit Dago membelah gunung.
Pada awal perjalanan dari buahbatu menuju dago, kami masih bercanda ria, namun dari dago menuju Maribaya yang ada hanyalah kecapean. Bagaimana tidak, saat kami menyisir bukit, hujan turun dengan derasnya. Petirpun menyambar melintas didepan mata disertai tiupan angina yang begitu kuat. Ada perasaan takut kala melihat pohon-pohon bergoyang ditiup angina. Kamipun kebingungan karena tiada tempat untuk berteduh, karena kalo sudah ditengah gunung tak ada lagi rumah penduduk. Pada waktu itu.
Terpaksa kami terus melanjutkan perjalanan walau medan terasa semakin berat. Hampir mau pingsan . saya harus mengeluarkan tenaga extra. Hujan yang deras terus mendera tanah menjadikan tanah semakin lembek dan becek, membuat tanah gunung itu lengket di ban-ban sepeda kami, otomatis tidak berputar, alhasil harus didorong, dengan sekali-sekali membersihkan tanah yang lengket di ban tak hirau lagi dengan air hujan yang terus mengguyur kami, dan tak hirau pula dengan keadaan kami yang kotor karena harus jatuh bangun berguling ditanah. Iya gitu.
Akhirnya sampai pula kami dijalan raya Maribaya Lembang, hujanpun mulai mereda, namun perjalanan baru setengahnya, yang setengahnya adalah perjalanan menuju pulang.
Menyusur jalan raya. Perasaan lega. Medan berat sudah dilalui, namun tenaga sudah benar-benar terkuras apalagi buat perempuan. Rika, Devy, Nidia, Yuli. Mereka sudah Nampak tak kuat lagi. Sesampainya di terminal Lembang, saya dan Mickey memutuskan untuk mencarter mobil angkot (angkutan kota) untuk pulang. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Touring Bersepeda melintas gunung bersama teman-teman PMR.
Diperjalanan didaerah Dago sekitar jalan Trunojoyo tiba-tiba muncul segerombolan pemuda yang berjalan kaki hamper memenuhi ruas jalan. Saat itu saya berada didepan dan adik-adik PMR yang perempuan dibelakang. Disanalah segerombolan Pemuda itu mencolek-colek adik-adik PMR saya. Dan saya hanya bisa melihat tanpa berkata-kata. Andai hanya beberapa orang tentu saya sudah menghajarnya. Ini segerombolan. Saya terpaku. Walau kejadiannya sebentar tapi itu benar-benar menyakitkan saya . saya kapok. Saya tidak akan setuju lagi andai acara ini diadakan lagi/ untuk adik-adik PMR. Saya minta maaf. Maaf yang sesungguhnya atas kejadian yang menimpa itu Please forgive me, I don’t know what to do…Please forgive me, I can’t stop that gerombolan….
Selain hal yang menyakitkan ini, saya punya pengalaman yang mengharukan yaitu saat bersepeda menuju Lembang menyisir bukit Dago membelah gunung.
Pada awal perjalanan dari buahbatu menuju dago, kami masih bercanda ria, namun dari dago menuju Maribaya yang ada hanyalah kecapean. Bagaimana tidak, saat kami menyisir bukit, hujan turun dengan derasnya. Petirpun menyambar melintas didepan mata disertai tiupan angina yang begitu kuat. Ada perasaan takut kala melihat pohon-pohon bergoyang ditiup angina. Kamipun kebingungan karena tiada tempat untuk berteduh, karena kalo sudah ditengah gunung tak ada lagi rumah penduduk. Pada waktu itu.
Terpaksa kami terus melanjutkan perjalanan walau medan terasa semakin berat. Hampir mau pingsan . saya harus mengeluarkan tenaga extra. Hujan yang deras terus mendera tanah menjadikan tanah semakin lembek dan becek, membuat tanah gunung itu lengket di ban-ban sepeda kami, otomatis tidak berputar, alhasil harus didorong, dengan sekali-sekali membersihkan tanah yang lengket di ban tak hirau lagi dengan air hujan yang terus mengguyur kami, dan tak hirau pula dengan keadaan kami yang kotor karena harus jatuh bangun berguling ditanah. Iya gitu.
Akhirnya sampai pula kami dijalan raya Maribaya Lembang, hujanpun mulai mereda, namun perjalanan baru setengahnya, yang setengahnya adalah perjalanan menuju pulang.
Menyusur jalan raya. Perasaan lega. Medan berat sudah dilalui, namun tenaga sudah benar-benar terkuras apalagi buat perempuan. Rika, Devy, Nidia, Yuli. Mereka sudah Nampak tak kuat lagi. Sesampainya di terminal Lembang, saya dan Mickey memutuskan untuk mencarter mobil angkot (angkutan kota) untuk pulang. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Touring Bersepeda melintas gunung bersama teman-teman PMR.
JRC BASIC TRAINNING
Kegiatan ini yang paling menyenangkan bagi saya, karena setiap pendas/pendidikan dasar itu berarti harus Camping, baik disekolah maupun ditempat percampingan umum ataupun ditempat camping miliknya PMI. / Palang Merah Indonesia cabang Bandung.
Inilah kegiatan refreshing dari kuliah. Disini kami mendidik dan menggembleng mental-mental calon anggota. Kami buat mereka serba salah. Yang benar jadi salah yang salah apalagi. Disini pula kami buat mereka bahagia dan disini pula kami buat mereka menangis. Pokoknya seru deh. Selain kami beri pengetahuan tentang P3K / Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan., kami uji juga mental mereka. Pokoknya disini tak ada lagi anak mamih atau papih. Semua perbedaan Ras, Suku, Agama, Golongan ditiadakan. Semua sama.
Dihari pertama saat mereka Upacara Pembukaan. Kami adakan Sweeping. Dimana semua makanan perbekalan yang mereka bawa dari rumah, kami sita. Termasuk yang bawa Walkman. MP3 belum ade.
Setelah upacara pembukaan kami suruh mereka tidur, disini kami masih baik-baik. Memang untuk kegalakanpun disini kami hanyalah acting. Setiap tenda regu membicarakan barang-barang mereka yang hilang. Kami Panitia tertawa. Sebetulnya makanan yang disita itupun bukan untuk panitia tapi nantinyapun akan dibagikan untuk dimakan bersama-sama. Bahasa lainnya, sama rasa – sama rata.
Sebelum adzan subuh, baru mereka kami bangunkan. Dengan suara-suara keras dan lantang, memecah kesunyian malam. Membuat semua calon kaget dan mulai deg-degan. Dalam hitungan 10 mereka sudah harus kumpul dilapangan. Bad dream come true. Mereka baru tidur kurang lebih 2 jam dan sedang terlelap-lelapnya karena kecapaian. Dengan perasaan yang mulai ketakutan mereka berkumpul sampai lupa tidak mengenakan alas kaki. Memakai gaun tidur atau celana pendek bahkan kaus singlet. Jelas ini makanan empuk untuk dimarahi senior atau panitia sampai menjelang pelaksanaan sholat shubuh.
Kami akui kekerasan itu ada. Tapi yang melakukan mereka sendiri atas perintah kami. Ya sami mawon. Sebagai contoh. Dimalam kedua kami kumpulkan. Disuruhnya berhadap-hadapan. Dan disuruhnya satu barisan untuk menampar temannya yang ada didepan. Dan mulailah terdengar bunyi plak……plak…..plak. …..Disitulah Kami marahi barisan yang menampar tadi dengan kata-kata tentunya hingga kata Bajigurpun keluar artinya bajingan namun diperhalus. Bisa aja.
Bagaimana gak kesel, mereka disuruh nampar kawannya, mau aja. Padahal jelas itu menyakitkan. Bodoh kan. Akhirnya kami minta barisan yang ditampar untuk membalas menampar. Karena paksaan Senior mungkin akhirnya mereka balas menampar. Jadi sama-sama bodohkan. Dimarahi lagi. Dinasihati lagi, sampai akhirnya mereka menangis berpelukan saling memaafkan.
Selain acara menangis ini. Tentunya ada lagi yang seru yaitu diacara renungan, dimalam terakhir. Disini biasanya kami sentuh hati mereka dengan perilaku mereka terhadap orangtua karena seusia mereka biasanya lagi muncak-muncaknya pembangkangan. Setelah acara menangis baru diisi dengan kebahagiaan. Pentas hiburan kelompok sambil makan bubur kacang hangat dimalam yang dingin dikesunyian hutan. Setelah puas merekapun disuruhnya tidur.
Merekapun tidur pulas. Dipikirnya sudah bebas. Salah….Subuhnya kami bangunkan lagi, membuat mereka kebingungan. Ko nggak ada henti-hentinya. Adak kok. Setelah sholat shubuh, kita adakan acara penutupan pengukuhan anggota baru. Luluslah mereka. Dan inilah saatnya mereka memilih Panitia/Kakak terbaik, terpavorit, tergalak dan lain sebagainya yang kemudian membalas dengan hukuman seperti jalan jongkok ataupun push up dan scot jump. Menampar tidak ada. Aneh….. Setelah itu . Horeee…… Pulang…….!!! Dengan beribu-ribu kesan yang tak mudah dilupakan. Sungguh suatu memorial yang indah dalam hidup ini.
Inilah kegiatan refreshing dari kuliah. Disini kami mendidik dan menggembleng mental-mental calon anggota. Kami buat mereka serba salah. Yang benar jadi salah yang salah apalagi. Disini pula kami buat mereka bahagia dan disini pula kami buat mereka menangis. Pokoknya seru deh. Selain kami beri pengetahuan tentang P3K / Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan., kami uji juga mental mereka. Pokoknya disini tak ada lagi anak mamih atau papih. Semua perbedaan Ras, Suku, Agama, Golongan ditiadakan. Semua sama.
Dihari pertama saat mereka Upacara Pembukaan. Kami adakan Sweeping. Dimana semua makanan perbekalan yang mereka bawa dari rumah, kami sita. Termasuk yang bawa Walkman. MP3 belum ade.
Setelah upacara pembukaan kami suruh mereka tidur, disini kami masih baik-baik. Memang untuk kegalakanpun disini kami hanyalah acting. Setiap tenda regu membicarakan barang-barang mereka yang hilang. Kami Panitia tertawa. Sebetulnya makanan yang disita itupun bukan untuk panitia tapi nantinyapun akan dibagikan untuk dimakan bersama-sama. Bahasa lainnya, sama rasa – sama rata.
Sebelum adzan subuh, baru mereka kami bangunkan. Dengan suara-suara keras dan lantang, memecah kesunyian malam. Membuat semua calon kaget dan mulai deg-degan. Dalam hitungan 10 mereka sudah harus kumpul dilapangan. Bad dream come true. Mereka baru tidur kurang lebih 2 jam dan sedang terlelap-lelapnya karena kecapaian. Dengan perasaan yang mulai ketakutan mereka berkumpul sampai lupa tidak mengenakan alas kaki. Memakai gaun tidur atau celana pendek bahkan kaus singlet. Jelas ini makanan empuk untuk dimarahi senior atau panitia sampai menjelang pelaksanaan sholat shubuh.
Kami akui kekerasan itu ada. Tapi yang melakukan mereka sendiri atas perintah kami. Ya sami mawon. Sebagai contoh. Dimalam kedua kami kumpulkan. Disuruhnya berhadap-hadapan. Dan disuruhnya satu barisan untuk menampar temannya yang ada didepan. Dan mulailah terdengar bunyi plak……plak…..plak. …..Disitulah Kami marahi barisan yang menampar tadi dengan kata-kata tentunya hingga kata Bajigurpun keluar artinya bajingan namun diperhalus. Bisa aja.
Bagaimana gak kesel, mereka disuruh nampar kawannya, mau aja. Padahal jelas itu menyakitkan. Bodoh kan. Akhirnya kami minta barisan yang ditampar untuk membalas menampar. Karena paksaan Senior mungkin akhirnya mereka balas menampar. Jadi sama-sama bodohkan. Dimarahi lagi. Dinasihati lagi, sampai akhirnya mereka menangis berpelukan saling memaafkan.
Selain acara menangis ini. Tentunya ada lagi yang seru yaitu diacara renungan, dimalam terakhir. Disini biasanya kami sentuh hati mereka dengan perilaku mereka terhadap orangtua karena seusia mereka biasanya lagi muncak-muncaknya pembangkangan. Setelah acara menangis baru diisi dengan kebahagiaan. Pentas hiburan kelompok sambil makan bubur kacang hangat dimalam yang dingin dikesunyian hutan. Setelah puas merekapun disuruhnya tidur.
Merekapun tidur pulas. Dipikirnya sudah bebas. Salah….Subuhnya kami bangunkan lagi, membuat mereka kebingungan. Ko nggak ada henti-hentinya. Adak kok. Setelah sholat shubuh, kita adakan acara penutupan pengukuhan anggota baru. Luluslah mereka. Dan inilah saatnya mereka memilih Panitia/Kakak terbaik, terpavorit, tergalak dan lain sebagainya yang kemudian membalas dengan hukuman seperti jalan jongkok ataupun push up dan scot jump. Menampar tidak ada. Aneh….. Setelah itu . Horeee…… Pulang…….!!! Dengan beribu-ribu kesan yang tak mudah dilupakan. Sungguh suatu memorial yang indah dalam hidup ini.
R O X A N N E
Namanya mengingatkan saya akan lagunya The Police “Roxanne”. Dia berdarah Padang. Usianya 1 tahun dibawah saya. Dia adik kelas saya, juga adik angkatan di organisasi PMR di SMA.
Biasa, mulanya sih suka. Selanjutnya bisa ditebak, ingin jadi kekasihnya. Dan kemudian jawaban saya peroleh diruang UKS sekolah yang sekaligus markas anggota PMR. Disini, diruangan ini, saya diwawancara olehnya dan diruangan ini hanya kami berdua. Saya ditanya kenapa saya menyukainya ? 100% saya grogi, maklum belum berpengalaman. Sementara dia sendiri Nampak tenang. Sudah pengalaman kali. Lebih dari itu ucapannya menunjukan kedewasaan. Sosok keremajaanya hilang. Pantas para ahli bilang kalo wanita itu lebih tua lima tahun daripada cowok. Itu terbukti.
Disini, diruangan ini bagaimana saya ditolak secara halus tanpa menyinggung perasaan. Cinta saya bertepuk sebelah tangan. Malu sih memang. Bahkan muka saya memerah dibuatnya. Namun kini hati jadi lega karena jawaban sudah ada, dan pertemananpun kembali dijalin mungkin ini yang terbaik.
Sebagai catatan dia pandai memainkan gitar. Memotivasi saya untuk bisa juga. Sampai suatu hari ketika saya bermain gitar, dia memuji saya, “wah , pinter kini mainnya..!”. Hidung saya membengkak. Kembang kempis. Bangga kali dapet pujian dari pujaan hati. Dalam hati, kamulah yang memotivasi saya sehingga saya bisa. Walaupun endingnya ditolak. Keuntungan saya dapat. Saya bisa main gitar.
Untuk para reders, andai pujaanmu punya keahlian semisal pandai Bahasa Jepang, cobalah kamu untuk menguasai lebih darinya sehingga di ending nanti kamu punya kelebihan yang positif. Syukur juga nantinya menjadikan pertimbangan buat Sang Pujaan untuk membalas cinta. Maksudnya, semoga lebih baik dari apa yang saya alami. Hi..hi…
UIH KAPAYUN
Biasa, mulanya sih suka. Selanjutnya bisa ditebak, ingin jadi kekasihnya. Dan kemudian jawaban saya peroleh diruang UKS sekolah yang sekaligus markas anggota PMR. Disini, diruangan ini, saya diwawancara olehnya dan diruangan ini hanya kami berdua. Saya ditanya kenapa saya menyukainya ? 100% saya grogi, maklum belum berpengalaman. Sementara dia sendiri Nampak tenang. Sudah pengalaman kali. Lebih dari itu ucapannya menunjukan kedewasaan. Sosok keremajaanya hilang. Pantas para ahli bilang kalo wanita itu lebih tua lima tahun daripada cowok. Itu terbukti.
Disini, diruangan ini bagaimana saya ditolak secara halus tanpa menyinggung perasaan. Cinta saya bertepuk sebelah tangan. Malu sih memang. Bahkan muka saya memerah dibuatnya. Namun kini hati jadi lega karena jawaban sudah ada, dan pertemananpun kembali dijalin mungkin ini yang terbaik.
Sebagai catatan dia pandai memainkan gitar. Memotivasi saya untuk bisa juga. Sampai suatu hari ketika saya bermain gitar, dia memuji saya, “wah , pinter kini mainnya..!”. Hidung saya membengkak. Kembang kempis. Bangga kali dapet pujian dari pujaan hati. Dalam hati, kamulah yang memotivasi saya sehingga saya bisa. Walaupun endingnya ditolak. Keuntungan saya dapat. Saya bisa main gitar.
Untuk para reders, andai pujaanmu punya keahlian semisal pandai Bahasa Jepang, cobalah kamu untuk menguasai lebih darinya sehingga di ending nanti kamu punya kelebihan yang positif. Syukur juga nantinya menjadikan pertimbangan buat Sang Pujaan untuk membalas cinta. Maksudnya, semoga lebih baik dari apa yang saya alami. Hi..hi…
UIH KAPAYUN
r e n i t a
Sore ini aku ke sekolah lagi, bukan maksud untuk belajar karena sekolah ku pagi. Tapi karena kuingin ketemu seseorang, maksudnya ingin berkenalan lebih akrab lagi. Maklum SMA masa-masanya puber. Seusai jam sekolah dia gak lansung pulang tapi menuju ruang UKS (usaha kesehatan seekolah). Kuikuti sampai disana ku ketemu dengan teman-teman sekelasku, mereka nanya “ngapain ke sekolah?”. “ Biasa aku naksir seseorang, tapi dia kesini, emang ada acara apa?” tanyaku. “Besok kita mau camping acara pendas PMR (pendidikan dasar palang merah remaja),” jawab temanku, sambil dia ngajak aku ikut PMR juga. “Udah yuk masuk. Ikut aja”. Aku sih mau aja, berarti gak perlu sekolah dua hari, lumayan. Akhirnya aku terdaftar jadi calon anggota PMR dan ikut pendas.
Di Pendas PMR, Tak adalagi waktu untuk ngobrol dengannya, saya hanya bisa mencuri pandang kalo ada kesempatan. Soalnya di Pendas ini Kami digembleng dididik mental dan fisik oleh kakak-kakak senior kami.
Bahkan niatankupun tercium oleh mereka, terbukti saat mereka menanyakan motifasi masuk PMR kepada kami semua, waktu itu salah seorang senior bertanya padaku, “Apa motifasi kamu masuk PMR?!” tanyanya. “Ingin menambah wawasan dalam berorganisasi dan ingin menambah ilmu dibidang Kepalangmerahan”, jawabku. Namun tak diduga semua kakak senior serempak membantah dengan suara keras. “Bohong….,Bohong….!” Dan Senior yang menanyaiku langsung berkata, “Kamu tu masuk PMR karena Cewek..!”. Merah padamlah mukaku, tapi untungnya waktu itu malam hari jadi tak terlihat kalo waktu itu mukaku kebakaran.
Akhirnya saya dilantik jadi anggota PMR. Karena banyak teman sekelas, sayapun jadi aktif sementara dia gak aktif. Dan niatan untuk mengejar jadi pacarpun terlupakan, mengikis habis pandangan pertama membuat perasaan jadi biasa-biasa. Aneh……
Di Pendas PMR, Tak adalagi waktu untuk ngobrol dengannya, saya hanya bisa mencuri pandang kalo ada kesempatan. Soalnya di Pendas ini Kami digembleng dididik mental dan fisik oleh kakak-kakak senior kami.
Bahkan niatankupun tercium oleh mereka, terbukti saat mereka menanyakan motifasi masuk PMR kepada kami semua, waktu itu salah seorang senior bertanya padaku, “Apa motifasi kamu masuk PMR?!” tanyanya. “Ingin menambah wawasan dalam berorganisasi dan ingin menambah ilmu dibidang Kepalangmerahan”, jawabku. Namun tak diduga semua kakak senior serempak membantah dengan suara keras. “Bohong….,Bohong….!” Dan Senior yang menanyaiku langsung berkata, “Kamu tu masuk PMR karena Cewek..!”. Merah padamlah mukaku, tapi untungnya waktu itu malam hari jadi tak terlihat kalo waktu itu mukaku kebakaran.
Akhirnya saya dilantik jadi anggota PMR. Karena banyak teman sekelas, sayapun jadi aktif sementara dia gak aktif. Dan niatan untuk mengejar jadi pacarpun terlupakan, mengikis habis pandangan pertama membuat perasaan jadi biasa-biasa. Aneh……
Langganan:
Postingan (Atom)